Menelisik Tabir Koalisi Mualem - Prabowo


Prabowo dan Muzakkir Manaf
Banyak diantara kita yang syok ketika mendapati fakta bahwa, Partai Aceh yang mengklaim diri sebagai pembela rakyat dan kepentingan Aceh, telah berkoalisi dengan Gerindra, sebuah partai yang dimiliki oleh Prabowo Subianto.  Lalu benarkah bahwa koalisi tersebut sebagai bukti bahwa Aceh seksi dimata mantan Danjen Kopassus itu secara politik? Ataukah ada hal lain yangmelahirkan “perkawinan” itu?.

Untuk mencari jawaban yang benar dari pertanyaan diatas, kita harus menelaah dulu siapa sebenarnya Prabowo Subianto tersebut. Lelaki tambun mantan petinggi Kopassus itu adalah seorang prajurit yang telah menyerahkan segenap jiwa raganya untuk keutuhan Negara Kolonial Republik Indonesia (NKRI). 

Dia adalah seorang yang berpandangan ultra nasionalis –mencintai Jawa centris (nasional) secara berlebihan)--. Maka tidak heran, ketika masih aktif di Kopassus, dia adalah orang yang paling anti terhadap gerakan pemisahan diri dari NKRI. Untuk itulah dia bertempur habis-habisan membabat setiap gerakan perlawanan, termasuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Kampayenya di pulau Jawa saat itu adalah menjaga keutuhan NKRI. Dan khusus untuk Aceh, misi yang dia emban adalah tembak GAM dan basmi semua elemen perlawanan, untuk memastikan agar Sumber Daya Alam (SDA) Aceh tetap dikelola oleh NKRI melaluiExxon Mobil (ini adalah salah satu misi penerjunan Kopassus ke aceh saat itu). Pengamanan proyek vital milik kolonial di Aceh adalah harga mati. 

Pasca “terbuang” dari elit militer, dan pasca damai antara NKRI dan Aceh, mau tak mau, Prabowo harus melakukan pendekatan lain terhadap Aceh. Hal ini tidak terlepas dari jabatannya yang sekarang yaitu ketua partai dan seorang pebisnis. Untuk itu dia harus melakukan re-deal dengan pemimpin GAM yang  dianggapnya stupit

Untuk apa membangun deal-deal baru itu semua. Tidak lain dan tidak bukan, adalah karena murni bisnis semata. Dimata Prabowo, secara politik Aceh tidak seksi. Negeri pendudukan ini hanya memiliki 5 juta jiwa penduduk. Tentu, dilihat secara nasional, siapapun tahu, suara rakyat Aceh (dalam kancah pemilu nasional) tidak punya arti. Bahkan kalau boleh jujur, tidak dihitung sebagai daerah yang menguntungkan. 

Namun, bila ditelisik dari sudut pandang ekonomi Aceh adalah ladang “emas” yang menggoda untuk digarap. Umpama gadis cantik, Aceh adalah perempuan muda yang  aduhai serta masih layak untuk “ditiduri” karena mewarisi kekayaan orang tuanya yang berlimpah. 

Koalisi yang dibangun dengan Partai Aceh adalah murni untuk bisnis (ekonomi kapitalis) serta  menjaga kelangsungan bisnis adiknya, Hasyim Djojohadikusumo ,  di Aceh, dan untuk memastikan, agar potensi SDA yang ada di serambi, berada dibawah kendali Prbowo. 

Anda tentu bertanya, apa bisnis adiknya di tanoh indatu? Di blok Singkil, adik mantan menantu Soeharto itu adalahNation Petroleum sebuah perusahaan minyak bumi dan gas, yang sedang melakukan penelitian di wilayah itu untuk mengetahui kondisi wilayah, sosial, dan budaya masyarakat setempat jika deposit migas di wilayah itu nantinya dieksplorasi bahkan dieksploitasi. 
Bukan hanya blok Singkil yang menjadi incaran Prabowo dan Hasyim. 

Temuan ladang migas baru di pantai timur Aceh juga menjadi target mereka. Sebab, menurut data sementara, cadangan minyak dan gas di enam kabupaten di pantai timur jauh lebih besar dibandingkan blok Singkil. Bahkan jauh diatas yang dimiliki oleh ladang gas Arun yang hampir habis “diperkosa” oleh pusat itu. 

 Di sisi yang lain, saat ini Provinsi Aceh memiliki 25 sumur penghasil minyak dan gas (migas). Selain itu, di Aceh  juga terdapat 12 pengeboran sumur eskplorasi.  Ini merupakan salah satu investasi besar bila dikembangkan dengan baik. Demikian ungkap kepala perwakilan sumbagut SKK Migas Bahari Abbas, usai pertemuan di pendopo Gubernur Aceh, Rabu (29/1).  (The Globe Journal.com: Aceh Punya 25 Sumur Migas. Kamis, 30 januari 2014)

Di bidang perhutanan, Prabowo juga memiliki Tusam Hutani Lestari berada di Nanggroe Aceh Darussalam. Area nya meliputi kawasan pegunungan di Aceh Tengah, sehingga menyediakan iklim yang sempurna bagi pertumbuhan Pinus Mercusii sebagai sumber bahan baku utama kertas gelondongan. Konsesi berlaku hingga tahun 2042 untuk area sebesar 97.300 hektar.

Sebuah Koalisi Salah Kaprah

Apa yang saya sebutkan di atas tadi merupakan alasan kuat, mengapa Prabowo mau datang ke Aceh. Ini bukan persoalan politik. Permohonan maaf Prabowo atas kesalahan masa lalu Kopassus di Aceh, bukan karena dia menyadari bahwa mereka pernah salah, namun lebih kepada basa-basi murahan, agar rakyat Aceh melupakan duka lara, dan dia mudah masuk untuk “menikmati” SDA yang dimiliki oleh Aceh.

Tidak sadarkah Mualem tentang hal ini? Saya tidak tahu jawabannya. Namun dalam kacamata saya, kalaulah Mualem beralasan koalisi dengan Gerindra murni pilihan politik demi menaklukkan Jakarta, saya kira ini sebuah kesalahan. Mengapa? Karena Gerindra dan Prabowo bukanlah sebuah partai besar. Dia juga bukan pula kandidat yang sangat kuat untuk dapat memenangkan kursi presiden. Konon lagi, dia adalah serdadu yang ditolak dimanapun, karena catatan merahnya dalam konteks pelanggaran HAM. 

Masih ada Jokowi yang lebih berpeluang menang sebagai RI 1. Lalu timbul tanya baru. Mengapa tidak dengan PDI P saja koalisi itu dibangun? Mengapa harus Gerindra? Bahkan, mengapa tidak dengan Golkar atawa kembali “bersetubuh” dengan Demokrat? 

Jadi, bagi siapapun yang masih waras, percayalah, Prabowo tidak pernah merasa bersalah terhadap Aceh. Sebagai seorang yang berpandangan ultra nasionalis, tindakannya dimasa lalu terhadap penzaliman Aceh, dia anggap benar. Sebab berhasil menjaga keutuhan NKRI dan tetap tunduk ke Jawa.

Lalu bila Mualem beralasan, kehadiran Prabowo akan membuat Aceh maju, kita harus bertanya maju dari segi apa? Apakah rencana pembangunan pabrik ban dan pabrik padi adalah jawabannnya? Kalau ya, sungguh murah trade yang dibangun oleh orang nomor dua di Aceh itu. Murah sekali nyawa orang Aceh, bila hanya diukur dari sudut pandang ekonomi.

Dalam konteks ini, saya menilai, koalisi yang dibangun salah kaprah. Mualem selaku petinggi PA, tidak sensitif dengan derita rakyat Aceh. Ini sebuah tusukan yang amat menyakitkan. Padahal, semua tahu, persoalan Aceh belum selesai sampai saat ini. Belum ada serdadu yang mengaku salah secara kesatria. Negara –sebagai induk semang serdadu—sampai detik ini, belum mengakui bahwa pelanggaran HAM berat pernah terjadi di Aceh.

Hanya demi kilang padi dan pabrik ban, kemudian Mualem memaksa kita melupakan kejahatan mereka? Sungguh naif sekali. Saya selaku rakyat jelas tidak bisa menerima itu. Luka yang ada belum sembuh. 

Ini bukan soal uang dan pekerjaan. Ini soal marwah dan tenggang rasa. Bisa jadi, sebagai kombatan GAM, Mualem tidaklah kehilangan keluarga dekatnya, sehingga mudah melupakan semua itu. Bagaimana dengan rakyat Aceh yang ayahnya dibunuh, anaknya diperkosa, ibunya dimutilasi, abangnya dihilangkan? Apakah mereka sudah bisa memaafkan?

Bicara soal pembangunan ekonomi, kalau boleh jujur. Tanpa berkoalisi dengan Gerindra pun, Aceh mampu mandiri. Uang kita terlalu banyak hari ini dari bagi hasil migas dan otonomi khusus. Ditambah lagi APBA reguler. 

Namun lagi-lagi. Ini soal kemampuan dan kejujuran. Aceh sampai detik ini masih gagal bangkit dengan uang yang banyak itu. Penguasa Aceh terjebak dalam pusaran praktik KKN. Ini tidak bisa dipungkiri.

Kita harus ingat. Yang kita butuhkan hari ini bukanlah pabrik padi dan ban itu yang hanya mampu menampung ribuan orang itu (konon katanya). Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang adil, berani tegas dan merakyat.

Darah dan nyawa tentu tak bisa diukur dengan pabrik ban. Sebab itu tidak pernah bisa disandingkan. Ada hal yang lebih penting. Yaitu KKR Aceh. Ini adalah kunci untuk menjawab persoalan korban pelanggaran HAM di Aceh. Sudah sampai dimana sekarang? Mari buka mata.

***

Seorang sahabat, tadi malam (Rabu/12/3/2014) bertanya kepada saya. "Bro, jangan-jangan Mualem telah membangun deal lain dengan Prabowo. Sehingga dia mau bekerjasama dengan musuh rakyat Aceh itu,"

Saya menjawab "Kalau soal itu, aku tak tahu. Bisa ya bisa tidak. Namun sebagai pribadi, aku tidak berani menduga, karena aku tak tahu dan tak pernah melihat,"

Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan lagi, secara politik Aceh tidak seksi. Namun secara ekonomi ya. Dan Prabowo sedang mengincar itu. []

Langsa, 13 Maret 2014. Ruang sempit demokrasi.

Note: Tulisan ini bukan bentuk provokasi. Namun sebagai media pencerahan, agar pola pikir kritis itu harus dibangun, supayatidak menelan mentah-mentah janji manis penguasa.
Read More...

MENGUNGKAP MISTERI PENEMBAKAN PANGLIMA MUDA PON CAGE



Sebelum menghembuskan nafas terakhir setelah ditembak oleh OTK sekitar jam 23.00 WIB di depan warung kopi Gurkha Matangglumpangdua, Saiful Husen alias Pn Cage sempat menelepon orang kepercayaannya yang bernama Yusnaidi alias Mirik. Kepada Mirik melalui hubungan telepon pada hari Jumat sekitar pukul 16.00 WIB (22/7) Cage mengatakan bahwa kepalanya sudah dihargai Rp 1 milyar. Hal ini dikatakan oleh Mirik kepada The Globe Journal, Senin siang (25/7).

Menurutnya menjelang Ashar Saiful menelpon dirinya dan mengatakan bahwa kepalanya sudah dibeli seharga 1 milyar. Selain itu dia juga mengingatkan Mirik agar tidak keluar sendiri, kalaupun keluar harus ajak kawan, sebab keadaan semakin tidak kondusif bagi Cage dan rekan-rekan.
Read More...

Amanat Keutuha Presidium ASNLF


ACHEH-SUMATRA NATIONAL LIBERATION FRONT (ASNLF) 

 
Amanat Keutuha Presidium ASNLF 
bak uroë ulang thôn Atjèh Meurdéhka keu 36

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bismillahirrahmanirrahim

Assalammu’alaikum Wr. Wb.
Njang ulôn peumulia bandum bansa Atjèh ateuëh rhuëng dônja njoë.

Alhamdulillah pudjoë keu Po Teuh Allah SWT, njang ka neubri nikmat hudép, langkah dan raseuki keu geutanjoë bandum.Seulaweuët dan saleuëm ta peutrôh keu djundjôngan geutanjoë Rasulullah Muhammad SAW.Meunan tjit keu sjuhada geutanjoë tameudo’a sabé beu lapang kubu dan neubri sjuruga.

Bak uroë 4 Desember njoë tapeuingat saban-saban uroë peunjata kemeurdéhkaan Atjèh. Uroë njang that meusidjarah keu bansa Atjèh dalam abad njoë. Bak uroë njoë djeuët tangui untôk tapeugot saboh keunira akhé thôn dalam ôseuha peugisa keulai dèëlat bansa Atjèh dan kateuntèë djeuët tjit tangui untôk peugot reuntjana peuë-peuë njang meusti tapeulaku supaja geutanjoë trôh bak tudjuan njan.

Akhé thôn leupah geutanjoë seupakat untôk peusaho rakan-rakan njang meuseutia keu perdjuangan dimijup pajông peurdjuangan Acheh-Sumatra National Liberation Front (ASNLF) atawa lam basa droëteuh takheun Atjèh Meurdéhka (AM).

Peuët buleuën lheuëh njan, bak uroë buleuën 6-8 April 2012, ka keumaih ta meuduëk ngon peunutôh2 peunténg njang peuteuntèë pakriban dan soë peudjak buët-buët senambông perdjuangan Atjèh Meurdéhka. Dalam masa lhèë uroënjan ka ta peusahèh saboh konstitusi keu meunumat geutanjoë bandum dalam seuëh njoë, supaja buët-buët njang tapeudjak beuleubèh meuatô, teureuntjana dan bèk djisè u arah njang kon lam tudjuan peudong déëlat bansa.

Bak uroë keuseuneulheuëh, peseurta2 duëk pakat njan ka neupiléh keutuha, waki keutuha dan anggèëta-anggèëta Presidium, sibagoë salah saboh badan ASNLF untôk peudjak amanah-amanah perdjuangan Atjèh Meurdéhka.

Dalam masa keureudja lapan buleun njoë pihak presidium ka geutjok langkah-langkah konsolidasi ASNLF, peuturi droë bak badan-badan njang meukaét ngon peukara Atjèh dan njang that peunténg nakeuh brithèë dan bri peneurangan keu rakjat dan bansa Atjèh, bahwa perdjuangan Atjèh Meurdéhka mantong teudong lagèë geupula, hana meuakhé lom.

Untôk peutingkat keumampuan keureudja peungurôh dan peugot hubôngan ngon pihak-pihak laén, ASNLF ka geukirém peseurta dalam atjara-atjara peulatihan, miseuëdjih dalam atjara-

atjara njang djipeugot lé United Nations Human Rigths Council (UNHRC) di Djenèwa, Swiss dan Unrepresented Nations dan Peoples Organisation (UNPO) di Beulanda.

Meubagoë media lagèë website, blog, facebook, bulletin ka tapeugot dan tangui untôk peutrang peukara dan alasan Atjèh Meurdéhka dan sipreuëk haba-haba reusmi ASNLF. Watèë phôn tameugrak keulai, ramè njang hana meuphôm peuë dan pakon tapeudong keulai ASNLF, malah kajém tateurimong narit-narit tjeumarôt, khusuih djih dalam akun facebook geutanjoë. Tapi, liwat ôseuha-ôseuha penerangan njang tapeudjak sitjara meuatô dan dan hana pijôh-pijôh, deuh takalon ka mulai meu-ubah tjara pandang dan tjara seumiké ureuëng-ureuëng njan. Media-media njang na di Atjeh pih ka djitém pasoë haba-haba geutanjoë.

Bahpih meunan, mantong le that buët njata dan mantong le that peureulèë ureuëng untôk djeuët takheun peurdjuangan AM akan meuhasé. Ramè njang teumanjong, “Oh na ka peudjuangan AM?”. Watèë tapulang haba bak ureung teumanjong njan, “Peu njang ka neu peubuët uroënjoë keu peurdjuangan AM?”. Kajém hana meupeuë bri djeunaweuëb.

Peuëkeuh na rhôh tapiké kemeurdéhkaan Atjèh akan teuka meunan2 mantong, tanpa ikhtijeuë? Peuëkeuh buët rajek njoë ék geugulam lé padum-padum droë ureung mantong?Uôn jakin, geutanjoë seupakat, bahwa Atjèh han akan meurdéhka tanpa ôseuha dan do’a geutanjoë bandum. Djadi ka sipatôt djih tapeudjak agenda- agenda keureudja ASNLF saban-saban, menurôt ‘ileumèë, seurta keumampuan njang na bak geutanjoë maséng-maséng.

Keujakinan geutanjoë dan hana wéh-weuëh haté untôk tapeumeurdéhka tanoh éndatu teuh nakeuh pangkai dasar dalam tapeudjak buët njoë. Bahpih meunan, hana pat tapeusè, bahwa keumampuan ekonomi nakeuh salah saboh faktor peunténg njang peuteutèë peuëkeuh saboh-saboh agenda keureudja djeuët atawa meutheun bak tapeudjak.

Dalam hudép geutanjoë na masa seunang, na masa susah, na masa meuhasé na masa patah haté. Keugagalan sampoë ’an keutjiwa dalam peurdjuangan Atjèh Meurdéhka nakeuh lagèë peukara-peukara laén dalam hudép si uroë-uroë. Geutanjoë sabé na harapan meuhasé, meunjo keumah tadong tjot keulai. Harapan Atjèh Meurdéhka barô akan punah, meunjo geutanjoë tapijoh lam ikhtijeu (tameunjeurah).

Perubahan dalam sidjarah politék dônja djeuët takalon, dumnan lé tjeunto, bahwa hana peukara njang hana mungkén ateuh rhuëng dônja njoë.

Sibagoë tjeunto, Skotlandia, saboh nanggroë dan bansa di ‘Irupah, bahpih ka djipeusaho dalam keuradjeuën Inggréh Raja seulama leubèh nibak 300 thôn, hana djimeunjeurah dari peudjuangan untôk meurdéhka. Bahkan dalam thôn 2013 akan djipeugot saboh referendum untôk keumeurdéhkaan nanggroë njan.

Keu peukara njoë patôt that ta seumiké dan djeuët keupeuladjaran keu geutanjoë, pakon bansa Skotlandia njan djilakèë meurdéhka dari Inggréh, njang djithèë sibagoë saboh nanggroë that madju di dônja njoë. Lagèë tateupeuë Skotlandia keudroëpih rakjat djih sidjahtra dan sibagoë salah saboh pusat ekonomi di ‘Irupah.

Tjeunto laén nakeuh Katalania, saboh bansa laén lom di ‘Irupah, ngon klub bola sipak njan that meusjuhu dan kota rajek Barcelona, teungoh djiôseuha tjit untôk peuglah droë dari Spanjol. Katalania keudroë nakeuh saboh wilajah industri dan peurdagangan njang ka madju, tapi teutap djilakèë meudong keudroë, meurdéhka dari neugara Spanjol.

Dari dua bansa njan, deuh that trang keu geutanjoë heut meurdéhka bansa2 njan hana meu-iseuk, bahpih ka meunan madju dan makmu. Pakriban ngon geutanjoë bansa Atjèh? Peuë ka meumada atawa kadjeuët lagèënjan?

Bak akhé buleuën August 2012, geutanjoë katameulakèë beudjeuët keu anggèëta UNPO keulai, supaja na meunumat jang leubèh kong bak tapeugot kontak ngon pihak-pihak laén di tingkat internasional. Ban-ban njoë, bak uroë buleun 28 Novémber 2012, geutanjoë pihak ASNLF ka djiundang lé pihak UNPO untôk peutrôh haba peukara Atjèh.

Njoë meumakna keu geutanjoë bansa Atjèh meusti keureudjabeu leubèh djeumot dan leubèh meu-atô lom, supaja tjita-tjita untôk peudong keulai dèëlat bansa geutanjoë reudjang meuhasé di tanoh éndatu.

Akhé kalam, saleuëm meuthjén kamoë keu bandum bansa Atjèh njang mantong seutia keu peurdjuangan éndatu pat mantong ateuëh rhuëng dônja.

4 Désémber 2012
Ariffadhillah

Keutuha Presidium


Acheh-Sumatra National Liberation Front (ASNLF)    
PO Box 10 15 26 Fax  : +49 3691 8548 984
99805 Eisenach  
Germany


Phone :  +49 1577 3431 335
E-mail :  info@asnlf.org 
Website : www.asnlf.or


SUMBER: www.tabloidsuarapublik.com 
Reporter The ACEH TIME di Europa
Read More...

Musanna Tiro Menyoal Susunan Wali Nanggroe

Musanna Tiro bin Abdul Wahab Tiro
HARIAN Serambi Indonesia edisi 13 November 2012 (http://aceh.tribunnews.com/2012/11/13/ini-dia-wali-Nanggroë-satu-sampai-sembilan) memuat berita tentang Wali Nanggroe ke-9. Di sini perlu diluruskan, sebab ada beberapa kejanggalan dalam pemberitaan tersebut, terutama soal susunan Wali Nanggroe dari 1-9 (satu sampai sembilan). Entah dari mana rujukan sehingga bisa termasuk Teungku Ulèë Tutuë Hasan Muhammad (menantu dari Tengku Tjhik di Tiro Muhammad Saman dari anak pertama, Tengku Fathimah). Teungku Ulèë Tutuë juga kakek dari ibu saya, Asma Abdullah. Teungku Abdullah adalah anak laki-laki dari Teungku Muhammad Hasan tersebut. Teungku Abdullah juga sering di sebut Teungku Muda sebab Abdullah yang tua adalah ayahnya Tengku Tjhik di Tiro Muhammad Saman bin Abdullah bin Ubaidillah.

Setahu saya, Tengku Tjhik Hasan di Tiro dalam beberapa buku dan ceramahnya menyebutkan bahwa beliau bisa menjabat Wali Nanggroe karena waris dari kakeknya Tengku Tjhik di Tiro Mahjeddin dan ayah dari kakeknya Tengku Muhammad Saman di Tiro. Sehingga dalam beberapa kunjungannya ke Thailand, Arab Saudi dan beberapa Negara Eropa, beliau dianggap sebagai pewaris Negara atau pangeran. Saya juga pernah melihat beberapa surat dari album pribadi Tengku Hasan di Tiro yang menyebutkan beliau sebagai Prince(Pangeran). Surat itu saya lihat waktu saya mengunjungi Tengku Hasan di Tiro di Sweden pada January 2007. Tidak ada bantahan bahwa Tengku Hasan di Tiro memang layak dan wajib menjadi Wali Nanggroe, tak hanya sebatas sebagai “Pemangku Adat”, tetapi jauh lebih luas dari itu.

Mengapa kita harus mundur ke belakang dalam menerjemahkan Wali Nanggroe yang harus “diikat” dengan UUPA? Apakah UUPA sekarang sudah final? Apakah UUPA sekarang sudah sangat kuat untuk menyatukan Bangsa Aceh? Sehingga kekuatan Wali Nanggroe yang pertama Tengku Tjhik di Tiro Muhammad Saman sebagai pewaris Nabi (lihat: Hikayat Prang Sabi) tidak cukup kuat? Tengku Tjhik di Tiro Muhammad Saman bukan hanya sebagai pemimpin dalam peperangan melawan penjajahan Belanda di Aceh. Tetapi juga beliau sebagai Wali Nanggroe yang saat itu Raja Aceh pun tunduk terhadap Tengku Tjhik di Tiro.

Lihat surat yang didapati pada mayat Tengku Tjhik di Tiro Mahjeddin (Tengku Majét di Tiro) yang dicap oleh tiga orang kalangan Istana di Aceh, Tuanku Radja Keumala, Teuku Panglima Polem dan Tuanku Mahmud. Di surat ini mereka melakapkan Wali Nanggroe (masa itu dijabat oleh Tengku Tjhik di Tiro Mahjeddin - Tengku Majét) sebagai Almukarram, Almudabbir, Almalik. Semua gelar ini adalah gelar yang ada pada Raja yang sedang dalam pemerintahan. Jadi, Wali Nanggroe ini adalah pemimpin yang teratas di Aceh, di mana semua hal dalam pemerintahan adalah dalam kekuasaan Wali Nanggroe.

Jadi untuk menjadi Wali Nanggroe wajib memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, terutama dalam bidang Agama Islam dan adat Reusam Aceh. Selain itu wajib dilihat juga asal dari keturunannya. Bahkan, dulu untuk dapat menjabat sebagai Raja atau pemimpin golongan sangat ketat peraturannya. Wajib dilihat sejarahnya dari keturunan, kependidikan, tingkah laku, ibadat (tidak pernah dengan sengaja meninggalkan shalat jamaah), pergaulan, makanannya (tidak pernah makan makanan haram) dan lainnya. Yang sangat pokok adalah keturunan, Ilmu Agama, Ilmu Umum, menguasai beberapa bahasa asing selain bahasa Arab yang wajib, pergaulannya, berapa lama pernah mengajar atau berapa banyak buku pernah ditulis. Mengapa pergaulan sangat terutama disini? Karena jika calon pemimpin itu pernah berkawan dengan pencurimisalnya, jadi naluri mencuri harta negara sudah ada dalam tubuhnya. Apakah Wali Nanggroë sekarang sudah termasuk dalam katagori ini?

Teungku Muhammad Hasan Ulèë Tutuë
Teungku Ulèë Tutuë ini tidak pernah menjabat sebagai Wali Nanggroë. Tidak pernah tertulis dalam sejarah dan tidak pernah tercantum dalam pelaksanaan bahwa Teungku Ulèë Tutuë Muhammad Hasan menjadi Wali Nanggroë. Jika adapun terbaca sekarang ini kemungkinan ada sesuatu pihak yang ingin mengaut keuntungan dari keadaan politik sekarang yang telah mengesampingkan sejarah sebenarnya. Yang anehnya, dengan sangat dipaksanya Teungku Ulèë Tutuë disenaraikan sebagai Wali Nanggroë sebelum Tengku Ma’at di Tiro. Sebenarnya Wali Nanggroë yang pertama adalah Tengku Tjhik Muhammad Saman di Tiro yang langsung menerimanya dari Radja Atjeh sewaktu Radja Atjeh telah meninggalkan Istana untuk menyelamatkan diri ke Istana Keumala Dalam pada tahun 1874. Pihak Istana telah terpukul dengan jatuhnya Istana ketangan Belanda dan telah banyak panglima-panglima perang Istana syahid maka keluarga Istana mengungsi ke Keumala Dalam.

Teungku Ulèë Tutuë memang termasuk dalam pasukan Tengku Tjhik di Tiro dalam peperangan. Sehingga pada masa pasukan Tengku Tjhik di Tiro harus melawan Belanda dengan cara gerilya dalam hutan dan pegunungan di Aceh, Teungku Ulèë Tutuë ikut sama dalam peperangan. Istrinya Tengku Fatimah binti Tengku Tjhik di Tiro Muhammad Saman harus tinggal bersama anak-anaknya di Garot, Pidie. Menurut pengetahuan kami, Teungku Ulèë Tutuë syahid bersama dengan Tengku Tjhik di Tiro Mahjeddin (Tengku Majét di Tiro), sehingga kuburnya pun bersama Tengku Majét di Pulo Meusdjid, Tangse. Jika memang harus masuk Teungku Ulèë Tutuë dalam pernah menjabat Wali Nanggroë (biarpun tidak pernah), maka Malik Mahmud bukan Wali Nanggroe yang ke-9, tapi ke 10.

Setelah syahid Tengku Majét di Tiro, Wali Nanggroë ini dijabat oleh Tengku Ma’at di Tiro. Seorang lelaki yang sangat muda, baru 16 tahun umurnya. Dan beliau pun syahid dengan peluru yang menembus sebelah mata dan satu peluru lagi pada dadanya (baca: Buku Zentgraaf, Perang Kolonial Belanda di Aceh).

Musanna Tiro bin Abdul Wahab Tiro
bin Umar Tiro bin Mahjeddin Tiro
(Wali Nanggroe ke-6) bin Muhammad
Saman Tiro (Wali Nanggroe ke-1)
di Harrisburg, Pennsylvania, USA.
Email: raseuki@gmail.com

Catatan Redaksi: Penulis surat pembaca ini juga melampirkan satu dokumen surat Tuanku Raja yang tertulis dalam bahasa (aksara) Arab dan satu dokumen susunan Raja Aceh.

SUMBER: ACEHdotTRIBUNNEWSdotCOM
Read More...

Milad GAM Ke-36 Di Aceh Utara, Mualem Perintah GAM Hareum Peuek Bendera Bintang Buleun

Aceh Utara | acehtraffic.com - Makam Almarhum kabinet pertama Hasan Tiro, DR Mukhtar Hasbi Geudong yang terletak di Gampoeng Tanjong Baroeh Kecamatan Samudera Kabupaten Aceh Utara pagi tadi dipenuhi pelayat yang berziarah kemakam tersebut.

Bukan bendera perang Aceh yang berkibar, namun yang kelihatan hanya ratusan lembar bendera Partai Aceh ditancapkan di areal pemakaman dan tidak tampak satupun bendera bintang bulan dikibarkan guna memperingati milad GAM ke 36.

Makam tersebut merupakan makam salah satu tokoh perjuangan dan merupakan yang pertama kalinya diselenggarakan milad GAM di makam tersebut.

Dalam acara milad tersebut, KPA PA wilayah Pasee menggelar khanduri (kenduri) untuk anak yatim, janda korban konflik dan warga yang silih berganti berdatangan.

Panglima wilayah Pasee Zulkarnaini yang akrab disapa Tgk Ni menjelaskan bahwa setiap tahun milad GAM selalu diperingatkan setiap tanggal 4 Desember. Milad tersebut menurutnya bertujuan untuk mengenangkan tentang perjuangan Aceh dimasa lalu dan untuk yang lebih baik dimasa depan.

Dengan terselenggaranya milad GAM tersebut Tgk Ni mengharapkan agar Aceh kedepannya lebih baik, khususnya masyarakat Aceh diharapkan bersatu dengan pemerintah Aceh sekarang jangan berpilah-pilah dan jangan ada tarik menarik.

“Kita harapkan supaya Aceh ini tidak ada perpisahan, jangan ada tarik-menarik,” ujar Tgk Ni.

Ia juga sangat berterimakasih atas keinginan rakyat yang menaikkan bendera bintang bulan, tapi untuk saat ini menurut pengakuan Tgk Ni pihak pimpinan mereka belum mengizinkan untuk mengibarkan bendera bintang bulan.

“Apabila nanti ada putusan daripada qanun itu silahkan, tapi sekarang kan belum waktunya untuk kita kibarkan. Kita harus bersabar untuk berkeinginan mengibar bendera bintang bulan,” ucap Tgk Ni.

Mengenai adanya bendera bintang bulan berkibar menjelang Milad, Tgk Nie menjelaskan itu bukan tanggungan mereka karena pihaknya telah menghimbau seluruh Aceh agar tidak ada yang mengibarkan bendera bintang bulan.

“Meski ada yang mengibarkan itu diluar perintah kita,” kilahnya.

Sementara itu Bupati Aceh Utara, Cek Mad beranggapan bahwa yang menaikkan bendera bintang bulan bukan GAM tapi provokator.

“Karena sudah diperintahkan Muallem dan di geu peuhareum ureung GAM peu ek bendera bintang buleun,” ujar Cek Mad.

Menurut informasi yang diterima, Acara milad tersebut diselenggarakan di empat titik secara bersamaan yaitu, Mesjid Pasee Panton Labu, Mesjid Sampoiniet, Tanah Luas dan Rancong Muara Satu. | AT | HR | IS | Foto Ilustrasi |
Read More...

Lembaga Wali Nanggroe bukan “Lembaga Wali Negara”

Burak singa simbol gam(Siaran Pers Dari Germany)
Mengkritisi penyimpangan sejarah yang terjadi akibat rencana pembentukan lembaga Wali Nanggroe di Aceh, kami dari lembaga National Liberation Frontof Acheh Sumatra (ASNLF) berikut ini menegaskan bahwa:
Terutama tidak ada hubungan apapun antara Lembaga Wali Negara yang merujuk pada sejarah dan budaya bangsa Aceh, karena masalah itu yang terakhir kali dipegang oleh Tengku Hasan Muhammad di Tiro (alm), dengan lembaga “Wali Nanggroe” merupakan produk Helsinki yang sedang dipersengketakan oleh banyak pihak di Aceh akhir-akhir ini.
Bahkan, dalam buku yang berjudul “The Price of Freedom”, Tengku Hasan Muhammad di Tiro (alm) telah menjelaskan, apa yang dimaksud dengan Wali Negara dan kenapa beliau menyebutkan dirinya sebagai wali. Istilah itu adalah “Wali” diibaratkan seperti seorang anak kecil yang kehilangan orang tuanya lantaran dia belum dewasa. Nah..! Sebagai pengganti orang tuanya membutuhkan seorang Wali untuk menjaga serta melindungi dirinya. Demikianlah halnya dalam kasus negara Aceh, yang akan dijelaskan dalam alasan historis berikut ini.
Sebagaimana yang telah tercatat sebelumnya, Wali Negara adalah wujud dari deklarasi kembali kemerdekaan Aceh 4 Desember 1976, dimana Wali Negara Tengku Hasan Muhammad di Tiro (alm) mengkaitkan dengan jejak sejarah panjang saat berlangsung perjuangan melawan serangan kerajaan Belanda pada tahun 1873.
Ketika itu, tahun 1874, pemangku Sultan Aceh Muhammad Daudsyah masih berumur 9 tahun. Kondisi Sultan, disaat itu belum memungkinkan untuk mengambil alih pemerintahan, dan mana kala negara Aceh dalam keadaan darurat sehingga telah terjadi pemindahan kekuasaan dari Sultan Aceh kepada Tengku Muhammad Saman di Tiro. Estafet kepemimpinan Aceh dimaksud dijalankan secara turun temurun oleh keluarga di Tiro hingga syahidnya Tengku Chik Maat di Tiro pada tanggal 3 Desember 1911.
Kemudian, pada tahun 1953, Tengku Muhammad Daud Beureuéh mendirikan gerakan Darul Islam (DI), hingga berlanjut pada pendirian Republik Islam Aceh ditahun 1961. Saat itu, beliau juga pernah ditetapkan sebagai Wali Negara Aceh.
Sejarah berulang kembali pada tahun 1976, Tengku Hasan Muhammad di Tiro (alm) dengan sebutan Wali Negara, mendeklarasikan kembali kemerdekaan Aceh, sekaligus mendirikan front pembebasan bangsa Aceh Sumatra (National Liberation Front of Acheh Sumatra) atau yang lebih dikenal disebut dengan Angkatan Atjèh Meurdéhka (AM).
Sejalan dengan waktu, sebutan Wali Negara semakin mengakar dalam kalangan rakyat aceh dan semakin kuatnya gerakan perlawanan menentang penjajahan di atas bumi Aceh, terutama di tahun-tahun akhir hayatnya Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Tak dapat disanggah, bahwa beliau telah menjadi simbol pemersatu bangsa Aceh dalam perjuangan menuntut hak penentuan nasib sendiri.
Berdasarkan fakta sejarah di atas, bahwa Wali Negara adalah jabatan yang tak dapat dilepaskan dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan kedaulatan Negara Aceh. Hal tersebut sangat bertentangan dengan rumusan lembaga Wali Nanggroe untuk memilih seorang pemimpin adat, sebagaimana tertuang dalam qanun lembaga tersebut. Sehingga kedua istilah ini tidak dapat disetarakan ataupun disama-artikan.
Sejak Tengku Hasan Muhammad di Tiro (alm) belum ada seorang pun, baik yang berasal dari keturunan keluarga di Tiro maupun non, yang mengklaim dirinya sebagai pengganti Wali Negara dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Aceh. Meskipun demikian, perjuangan tersebut tetap dan masih terus dilanjutkan oleh pejuang-pejuang Aceh Merdeka yang bersatu dalam satu front pembebasan yang diwariskan oleh Wali Negara Teungku Hasan, yaitu Acheh-Sumatra National Liberation Front (ASNLF).
Sebagaimana diketahui, sejak 1997 Wali Negara Tengku Hasan Muhammad di Tiro telah berada dalam kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan dalam menjalankan tugas-tugas kenegaraan. Mengkaitkan “Wali Nanggroe” dalam NKRI dengan Wali-Wali Negara Aceh Merdeka, dari sisi kriteria apapun tidaklah berdasar. Tidak ada bukti keturunan ataupun dokumen pelimpahan kekuasaan Wali Negara Tengku Hasan Muhammad di Tiro (alm) kepada pihak-pihak lain.
Atas dasar itu, patut dipertanyakan atas dasar hukum apa, oleh siapa, dimana dan kapan Malik Mahmud Al Haytar diangkat sebagai Wali Nanggroe, sebagaimana tertulis dalam qanun tersebut. Bahkan, ia tidak memenuhi syarat-syarat yang dapat diterima oleh nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat Aceh. Apalagi ia secara terang-terangan telah melanggar amanah perjuangan kemerdekaan Aceh.
Menyetarakan Wali Nanggroe dalam NKRI dengan Wali Negara Aceh Merdeka adalah sungguh suatu tindakan manipulasi untuk memutar balikkan fakta sejarah perjuangan bangsa Aceh. Oleh karenanya, ASNLF sama sekali tidak memiliki kepentingan apapun terhadap Lembaga Wali Nanggroe saat ini, apalagi lembaga itu bila hanya untuk memuaskan kepentingan segelintir elit politik dengan menghambur-hamburkan uang rakyat.
Pembentukan lembaga Wali Nanggroe dan perangkat kelengkapannya akan berakibat pada pemborosan anggaran belanja. Sangatlah menyedihkan, di saat rakyat Aceh terhimpit dengan persoalan ekonomi untuk hidup sehari-hari, pihak-pihak yang mengatasnamakan wakil rakyat membentuk satu lembaga “super-power”, yang akan menyerap anggaran belanja tanpa makna apapun dalam pemberdayaan ekonomi rakyat, selain bermegah-megah dan merebut kekayaan untuk bersenang-senang di atas penderitaan rakyat aceh.
Apa lagi situasi di Aceh yang dialami hingga saat ini ternyata masih sengketa berkepanjangan dalam perumusan lembaga Wali Nanggroe telah pula mengorban hak-hak rakyat yang masih saja bergelut dalam konflik politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Anggota-anggota DPRA, yang seharusnya menampung aspirasi masyarakat sesuai dengan tugas yang mereka pikul, malah mutlak mengabaikannya.
Perlakuan tersebut telah mencerminkan sistem tirani yang mereka anut sehingga menghambat terbangunnya nilai-nilai demokrasi, dan akan dapat memicu konflik baru dengan kemungkinan terjadinya pertumpahan darah sesama bangsa Aceh. Dan hal ini dapat dipastikan akan terjadi, kalau pihak Jakarta menyetujui qanun lembaga ini.
Jesteru itu, lembaga dari ASNLF perlu menekankan sekali lagi betapa pentingnya jaminan kebebasan bagi rakyat Aceh dalam mengungkapkan pikiran secara terbuka baik dalam bentuk aksi protes, penyampaian petisi maupun aksi-aksi damai lainnya tanpa adanya ancaman ataupun rasa takut. Sebab hanya dengan jaminan atas hak-hak dasar berpolitik inilah rakyat Aceh berpeluang untuk berpartisipasi secara aktif dalam menentukan masa depan mereka.
Mencermati fenomena penindasan atas hak-hak dasar ini, ASNLF mengajak rakyat Aceh untuk serentak bangun dan menuntut hak-hak dasar tersebut dengan cara-cara yang dibenarkan. Penderitaan yang sedang menimpa bangsa kita sekarang tidak akan berakhir, tanpa adanya usaha-usaha yang keras dan berkelanjutan dari kita sendiri untuk merubah status quo yang ada.
Penulis : Asnawi Ali dari ASNLF di Germany, Tel.  +49 1577 3431 335 Fax. +49 3691 8548 984
Read More...

Video Gallery

Translate