Rakyat Aceh Tak Perlu Ucapan Terima Kasih Dari Gubernur, GAM: Garuda Dijidadku


Acehtraffic.com - Setelah gubernur Aceh yang baru dilantik beberapa waktu yang lalu, ribuan ucapan terimakasih dari pasangan gubernur terpilih terhadap rakyat Aceh yang telah memilih pasangan dari partai Partai Aceh dimuat di beberapa koran lokal bahkan hingga memasang spanduk berisikan ucapan terima kasih di seluruh penjuru propinsi tanah rencong.

Perlukah itu semua dilakukan?  Bukanlah ucapan terimakasih dalam bentuk kata-kata di lembaran koran yang diinginkan rakyat Aceh karena kata-kata dikoran tersebut akan berakhir menjadi pembungkus ikan asin juga bukan sekedar ucapan dalam bentuk spanduk yang diharapkan rakyat Aceh.

Spanduk yang terbentang dilangit-langit badan jalan raya yang diapit oleh kedua toko yang saling bersisian bagaikan sebuah jemuran dan menjadi tempat persinggahan debu dan polusi udara dan jika telah usang digunakan sebagai penutup tinja rakyat miskin untuk melindungi auratnya saat membuang hajat.

Baiknya gubernur terpilih menunjukkan ucapan terima kasihnya dalam bentuk tindakan, tanpa perlu mengucap kata terimakasih menggunakan iklan diberbagai media cetak maupun spanduk yang tidak sedikit menguras biaya.

Syukur-syukur jika dana ucapan terimakasih itu digunakan uang pribadinya namun bagaimana jika ternyata iklan ucapan terimakasih digunakan dengan uang rakyat ? 

Dan jika itu memang uang rakyat maka kata yang lebih tepat dalam iklan dimedia maupun spanduk adalah “Terima kasih rakyat Aceh yang telah membayar pajak karena dengan pajak anda kami dapat mengucapkan terimakasih melalui iklan dimedia cetak dan spanduk ini.

Semoga kedepan anda lebih rajin membayar pajak dan tidak ada yang nunggak sehingga kami dapat mengiklankan ucapan terimakasih kami lebih banyak lagi”.

Sekarang rakyat Aceh telah memilih Zaini Abdullah sebagai gubernur dan Muzakir Manaf sebagai wakil gubernur tampil sebagai pemenang pada pesta rakyat yang ternoda tahun 2012 ini.

Lupakan sejenak jika pasangan gubernur itu terpilih setelah rakyat mengalami  intimidasi dan teror, walau waktu itu dibuat terkesan biasa saja dan terkesan tidak masalah, bahkan pemburuan terhadap pelaku pun terkesan lamban, sampai pada sidang MK, aparat hukum berani mengatakan bahwa Pilkada Aceh berlangsung aman.

Bahkan belasan pelaku teror yang ditangkap oleh densus 88 anti teror, penguasa keamanan di Aceh tidak berani atau tidak mencari korelasi keterkaitan antara tindakan tersangka itu untuk kepentingan Pilkada dan keuntungan kelompok tertentu.  

Mereka [Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf] tentu masih ingat program kerja yang mereka tawarkan dan dirampungkan kedalam visi dan misi pada saat mereka berjualan dipentas kampanye pemilu 2012 lalu. 

Rakyat Aceh sama-sama mengharapkan agar pasangan gubernur terpilih tidak melupakan janjinya dengan mengatakan “saya sudah lupa tuh ?!?!” karena visi dan misi itulah yang dinanti-nantikan rakyat Aceh.

Itulah produk mereka yang laku dipasar pemilu 2012 bukan karena pendidikan Gubernur Dr Manusia [Zaini Abdullah] yang notabene hanya mengecap S1 sementara wakilnya Muzakir manaf hanya tamatan sekolah menengah atas. Dan mungkin tak jauh berbeda dengan para anggota DPRA yang kebanyakan lulusan SMA atau Ijazah sejenis lainnya.

Kabar angin tak sedap pun berembus hingga ketelinga para pengemis dijalanan dekat lampu merah. Begitu banyak orang terdekat pasangan gubernur terpilih sekarang yang kaya, lalu bagaimana dengan Rakyat Aceh ?

Apakah mereka dibiarkan terus meratapi kemiskinannya sementara di bumi Aceh kaya akan sumber daya alam?

Ataukah rakyat Aceh itu sendiri bukan orang terdekat Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf seperti yang mereka suarakan pada saat kampanye dihadapan ribuan Rakyat Aceh yang memerahkan lapangan terbuka.

“Hai syedara lon ban mandum yang meutuah, jinoe geutanyoe ban ban dum ka bla bla bla” namun ketika mereka telah terpilih saudara atau kerabat dekatnya hanya segelintir orang dari Partai Aceh ?

Salah satu jenderal TNI yang terlibat dalam penumpasan GAM dimasa lalu, dan ada sekian banyak masyarakat yang mengalami tindak kekerasan di masa itu, toh karena membantu GAM. Kini mantan GAM berjabat erat penuh mesra.

Apa kata Mualem, “Sejak dulu kami sudah dekat” wowww sesuatu bhangeeet?, cepat akrab walau beda ideology.

Ungkapan ini menimbulkan penafsiran bahwa perang dan perlawanan yang dilakukan dimasa silam  antara benar dan tidak? Padahal ketika konflik rakyat ikut merasakan pahit getirnya perang, bahkan jumlah korban terbanyak terdapat dari kalangan rakyat yang tak berdosa.

Jika para serdadu TNI ‘garuda didadaku’ maka eks GAM sekarang “garuda di jidadku’.

Sementara rakyat Aceh dulu termakan dengan Udep Beusare Mate Beusajan, Saboh Gafan dalam Kerenda” yang artinya berjuang dalam kebersamaan dan untuk cita-cita bersama.
Sehingga dengan doktrin itu masyarakat merelakan nyawanya terkorbankan demi sebuah perjuangan dan kesejahteraan bersama, dan mengharapkan bakal meraih kejayaan Aceh masa lampau.

Namun yang terjadi sekarang sepertinya kata-kata tersebut telah punah sebagaimana punahnya masa kejayaan Aceh dimasa lampau.

Rakyat Aceh sekarang lebih mengharapkan poin sila ke 4 dari pancasila yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Rakyat Aceh butuh seorang pemimpin yang arif dan bijaksana bukan penjilat dan penebar pesona dan juga bukan pemimpin kesetanan yang mengobral dan mendoktrin kata pengkhianat jika beda aliran politik sesatnya. 

Semoga di era kepemimpinan Partai Aceh keinginan rakyat Aceh tercapai, kini saatnya untuk membuktikan janji kampanye Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf. Buktikan Partai Aceh !!! Buktikan Merahmu !!!

Jangan kau gelapkan harapan rakyat Aceh dengan garis hitammu, jangan kau penggal rakyat Aceh dengan bulan sabitmu dan semoga bintang tidak berubah menjadi martil yang menyilangi bulan sabit karena Aceh bukan Nanggroe Komunis Bapak Teungku. []


Penulis adalah Hermansyah anak laut korban pembangunan tanggul pemecah ombak bibir pantai Lhokseumawe, berdarah Kalimantan – Aceh saat ini Berdomisili di Lhokseumawe
Read More...

Insiden Berdarah di DPRA

240612foto.12_.jpgSERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH -  Keributan terjadi di halaman Gedung DPR Aceh, usai pelantikan gubernur terpilih, dr. Zaini Abdullah dan Wakilnya Muzakir Manaf.

Teriakan menghujat mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf terdengar dari kerumunan massa yang ada di halaman gedung dewan tersebut. Mereka mengeluarkan kata-kata umpatan kepada Irwandi Yusuf.

Bahkan, sumber-sumber Serambinews.com di lokasi kejadian menyebutkan ada aksi pemukulan. Namun belum bisa dipastikan siapa yang terlibat dalam aksi pemukulan tersebut

"Saya sempat mendengar kalimat-kalimat umpatan dari kerumunan massa yang menghujat Irwandi. Saya juga melihat ada diantara massa yang mengalami luka dan berdarah," kata seorang saksi mata yang minta namanya tidak disebutkan.

Hingga berita ini diturunkan belum dapat dipastikan siapa korban dalam keributan di halaman gedung dewan tersebut. (*)

Editor : arif
Read More...

APBA jangan Terlambat Lagi


260612_09.jpg

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi (kiri) menyematkan tanda jabatan kepada Gubernur/Wakil Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah/Muzakir Manaf saat pelantikan dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRA, di Gedung DPRA, Banda Aceh, Senin (25/6). SERAMBI/BUDI FATRIA
* Pesan Mendagri pada Gubernur Baru
BANDA ACEH - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi menyatakan, Aceh dalam tiga tahun terakhir merupakan daerah yang paling terlambat dalam proses pengesahan anggaran daerah (APBA)-nya. 

“Ke depan hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi, karena sangat merugikan masyarakat dan daerah ini. Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh yang baru dilantik saya pesankan agar tradisi pengesahan anggaran yang terlambat itu ditinggalkan saja. Saya yakin, Pemerintahan Aceh yang baru ini memiliki kemampuan untuk mempercepat pengesahan anggaran tepat waktu setiap tahunnya,” kata Mendagri Gamawan Fauzi dalam pidato seusai melantik dr Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2012-2017 atas nama Presiden RI, Senin (25/6).

Pelantikan Gubernur/Wagub Aceh dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRA yang  berlangsung di Gedung Sidang Utama DPRA itu, turut dihadiri Wakil Ketua DPR RI Priyo Budi Santoso, Wakil Ketua MPR Ahmad Farhan Hamid, dan Menteri PAN & RB Ir Azwar Abubar MM. Sejumlah diplomat dari negara-negara sahabat, anggota DPR RI asal Aceh, Muspida Plus Aceh, alim ulama, tokoh masyarakat Aceh di Jakarta, Medan, Malaysia, Singapura, para bupati/wali kota se-Aceh, dan ribuan masyarakat lainnya.

“Saya melihat ini pelantikan gubernur yang cukup meriah dan ramai. Lihatlah karangan bunga ucapan selamat yang dijejer mencapai satu kilometer panjangnya. Bahkan kehadiran perwakilan negara-negara sahabat juga yang terbanyak hadir dalam pelantikan Gubernur Aceh ini. Sudah 15 gubernur yang saya lantik, tapi tidak sebanyak ini tamu dari luar negeri yang datang menghadiri,” ujar Gamawan Fauzi.

Melihat animo masyarakat sangat tinggi dalam menyambut dan menyaksikan prosesi pelantikan Gubernur/Wakil Gubernur Aceh yang baru, kata Mendagri, tentunya masyarakat menaruh kepercayaan dan harapan yang cukup besar kepada Zaini-Muzakir sebagai pemimpin mereka ke depan.

Kepercayaan dan harapan masyarakat yang sangat tinggi itu tentunya perlu dijawab dalam bentuk mewujudkan pembangunan Aceh yang lebih baik ke depan untuk kesejahteraan masyarakat dan kemajuan Aceh. Untuk bisa mewujudkan semua itu, kata Mendagri, perlu ditumbuhkan iklim investasi yang baik di Aceh. Sebab, dengan masuknya modal luar yang besar akan membuat daerah ini cepat terbangun dan sekaligus terbukanya lapangan kerja.

Mendagri juga menyatakan, Aceh merupakan daerah yang memiliki kekhususan sebagaimana dijamin dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang mengakui kesatuan daerah yang bersifat istimewa. “Hanya di Aceh saat pelantikan gubernur dibaca Salawat Badar. Di daerah lain tidak ada,” kata mantan gubernur Sumatera Barat ini.

Menyangkut sejumlah Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) dan Peraturan Presiden (Perpres) yang belum selesai sebagai turunan dan sekaligus petunjuk pelaksana UUPA akan terus diupayakan penyelesaiannya. “Termasuk hari ini saya bawa tiga orang Dirjen Kemendagri untuk menyelesaikan masalah ini, termasuk qanun,” katanya.

                                      Jangan pecah kongsi
Mendagri Gamawan Fauzi juga menyitir soal pasangan pimpinan daereh yang dihasilkan lewat proses pilkada, setelah dilantik dan menjalankan roda pemerintahan, ternyata kebanyakan di tengah jalan antara gubernur dan wakilnya pecah kongsi. 

“Dari sejumlah gubernur/wakil gubernur yang telah saya lantik selama ini, hanya 6,8 persen yang masih tetap langgeng, selebihnya pecah kongsi di tengah jalan. Saya berharap, Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh yang barusan dilantik tidak pecah kongsi di tengah jalan dan terus kompak sampai berakhir masa jabatan,” harap Mendagri.

                                                    Molor 15 menit
Prosesi pelantikan yang semula dijadwalkan berlangsung mulai pukul 14.00 WIB itu ternyata tidak tepat waktu dan molor sekitar 15 menit dari jadwal semula. Sebab, rombongan Mendagri Gamawan Fauzi, Pj Gubernur Tarmizi A Karim, Pemangku Wali Nanggroe Malik Mahmud, Pimpinan DPRA, Gubernur/Wakil Gubernur yang akan dilantik baru memasuki ruangan sidang sekitar pukul 14.13 WIB.

Tidak ada penjelasan pasti mengapa jadwal pelantikan sempat molor 15 menit, padahal semua tamu undangan sudah memasuki ruangan yang memadati lantai I dan balkon lantai II.(sup)

prosesi pelantikan
* Pukul 14.13: Rombongan Mendagri beserta istri Pj Gubernur Tarmizi A Karim, Pimpin DPRA (Hasbi Abdullah, Amir Helmi, dan Sulaiman Abda), Pemangku Wali Nanggroe Malik Mahmud dan Gubernur/Wakil Gubernur akan dilantik dr Zaini Abdullah/Muzakir Manaf memasuki ruang sidang utama Gedung DPRA sebagai tempat prosesi pelantikan.
* Pukul 14.15: Pembacayaan ayat-ayat suci Alquran yang dilanjutkan dengan Salawat Badar.
* Pukul 14.25: Pembacaan surat keputusan Presiden oleh Sekwan DPRA, Burhanuddin. 
* Pukul 14.35: Ketua DPRA Hasbi Abdullah membuka Sidang Paripurna Istimewa DPRA dengan agenda pelantikan Gubernur/Wakil Gubernur Aceh periode 2012-2017.
* Pukul 14.43: dr Zaini Abdullah/Muzakir Manaf diambil sumpahnya sebagai Gubernur/Wakil Gubernur oleh Mendagri di hadapan Ketua Mahkamah Syari’yah Aceh.
* Pukul 14.47: Penandatanganan berita acara sumpah.
* Pukul 14.49: Kata pelantikan yang dibacakan Mendagri.
* Pukul 14.50: Pemasangan tanda jabatan oleh Mendagri.
* Pukul 14.52: Penandatanganan serah terima jabatan dan penyerahan memori dari Pj Gubernur Tarmizi A Karim kepada Gubernur dr Zaini Abdullah yang disaksikan Mendagri.
* Pukul 14.53: Penandatanganan pakta integritas oleh Gubernur dr Zaini Abdullah dan Wakil Gubernur Muzakir Manaf.
* Pukul 14.54: Mendagri, Gubernur/Wakil Gubernur, Tarmizi A Karim kembali ke tempat duduk di meja utama. 
* Pukul 14.55: Sambutan Mendagri.
* Pukul 15.25: Sidang ditutup dan berakhir. (sup)
Read More...

Video Gallery

Translate